Pada hari Jum’at tanggal 8 September 2017, sivitas akademika Unnur memperingati Dies Natalisnya yang ke-18 dihitung mulai berdirinya Universitas Nurtanio Bandung pada tanggal 8 September 1999. Namun cikal bakal Unnur sendiri dimulai jauh sebelumnya yaitu mulai tahun 1967 saat berdirinya AAN (Akademi Administrasi Negara) “Angkasa” di Lanud Sulaeman yang kemudian tahun 1982 berubah menjadi STIA (Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi) Angkasa. Pada tahun 1991 di Lanud Husein berdiri AADB (Akademi Aeronautika Dirgantara Bandung). Kedua perguruan tinggi tersebut pada tanggal 8 September 1999 dilebur menjadi Universitas Nurtanio, STIA menjadi FISIP dan AADB menjadi FT, kemudian ditambah FE dan FIKI serta Program Pascasarjana.

Acara dimulai dengan gerak jalan santai mengelilingi Lanud Husein yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan, pembagian door prize dan ramah tamah. Seluruh mantan Rektor diundang, namun hanya bapak Hidayat dan bapak Edy Priyono yang dapat menghadiri acara tersebut. Dalam sambutannya Rektor berpesan bahwa dies natalis punya makna penting bukan hanya sebagai penanda bertambahnya usia, tapi juga penanda tingkat kedewasaan dalam berkarya. Unnur menetapkan menuju “World class Aerospace University 2030” dalam visinya. Untuk bisa meraih visi tersebut, Unnur harus bisa berinovasi, mengubah aturan main yang membelenggu kreativitas sivitas akademika, bahkan merombak total budaya organisasi yang menghambat proses adaptasi tersebut. Diperlukan adanya upaya-upaya yang harus dilakukan sebagai bagian dari resolusi ulang tahun.

Perolehan peringkat “B” dalam akreditasi institusi sebagai titik tolak dalam meningkatkan kinerja di segala bidang. Selanjutnya semangat sebagai suatu kolektivitas harus menjadi inti dari peringatan dies natalis sebagai sebuah momentum untuk mengaktualisasikan semangat awal berdirinya Unnur. Bahwa Unnur dibentuk bukan cuma untuk menjadi universitas yang terkenal, tapi terutama untuk mencerdaskan anak bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme inilah yang harus ditradisikan dalam dies natalis. Dirgahayu Unnur yang ke-18.